Siapa Yang Memulai Budaya ‘Aneh’ Itu…

July 23rd, 2008

Suara musik keras yang memekakkan telinga, penutupan jalan-jalan yang membuat orang-orang harus berputar hanya untuk pulang ke rumah, bahkan terkadang jalan untuk pulangpun tidak disediakan.

Itulah budaya ‘aneh’ nenek moyang kita ketika mengadakan acara selamatan, sunatan, nikahan dan sebagainya. Tidak ada berkah sama sekali yang didatangkan dari acara tersebut, yang ada hanya rasa suntuk ketika ada tetangga yang menyelenggarakan acara pernikahan, selamatan, sunatan, dan lain sebagainya.

Sungguh aneh, acara yang seharusnya menjadi berkah bagi para tetangga sekitarnya justru menjadi bencana bagi para tetangganya. Ketika undangan datang, bukan rasa senang atau gembira yang dirasakan. Justru perasaan suntuk ketika tetangganya mengadakan acara. Memikirkan buwuhannya (Angpau), memikirkan juga untuk segera mengungsi, sebab ketika ada acaranya tersebut, tanpa minta ijin tetangga sekitarnya, tanpa memikirkan kondisi tetangganya yang punya bayi atau anak kecil, disetel keras-keras musiknya.

Sungguh budaya yang datang dari kebodohan dan ketololan.

Hanya ada satu pihak yang merasa senang ketika ada acara seperti itu, yaitu para event organizernya (yg menyewakan sound systemnya, para penyanyinya dll).

Sementara pihak pengundang? pusing tujuh keliling karena biaya yang membengkak.

Demikian juga para undangan dan tetangga, pusing tujuh keliling karena suara yang memekakkan telinga, pusing memikirkan buwuhan, pusing karena jalan untuk pulang ditutup, dll.

Sungguh bodoh, orang yang memulai budaya ‘aneh’ itu.

Kerja sendiri, Tanpa Tekanan

July 15th, 2008

Salah satu keuntungan menjadi seorang freelancer adalah kita bisa memanajemen tekanan yang datang pada kita. Walaupun, tidak semua freelancer bisa seperti itu. Freelancer-freelancer dengan proyek dan tugas padat tentunya sulit untuk bisa istirahat. Tekanan akan selalu datang ke dia, para pelanggan yang minta proyeknya segera selesai akan terus menuntutnya menyelesaikan proyek-proyek yang ditugaskan padanya.

Sekarang, bagaimana caranya menjadi freelancer dengan proyek padat (yang tentunya berimbas pada penghasilan), tetapi bisa bekerja tanpa tekanan.

  • Harus pandai-pandai memilih alasan ketika kita sedang tidak ingin mengerjakan proyek. Kalau saya, alasan yang biasanya saya pakai adalah sedang dilapori error oleh pelanggan lain. Padahal sebenarnya menangani error tersebut tidak butuh waktu lama, tetapi karena memang sedang ingin santai, alasan tersebut cukup untuk membuat pelanggan tetap respek kepada kita (menunjukkan kita sebagai seorang yang bertanggung jawab terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan tugas kita sebelumnya).
  • Ketika menjadi freelance dengan gaji mingguan atau bulanan, jangan curahkan 100% kemampuan kita untuk menyelesaikan tugas dari mereka. Hal tersebut hanya akan membuat beban kerja kita semakin berat.  Cukup  berikan hasil kerja yang sudah bisa membuat mereka puas.
  • Mengukur level kepuasan calon pelanggan kita sebelum kita setuju mengerjakan proyek, lebih baik tidak mengerjakan proyek dari orang yang mempunyai standar kepuasan yang tinggi. Sebab itu akan membuat kita tertekan demi memenuhi standar kepuasan mereka (kecuali kalau terpaksa tidak ada proyek masuk, ya disikat saja).
  • Pegang kendali, harus kita yang menentukan time frame kapan mulai dan butuh berapa lama waktu pengerjaannya. Ketika sedang dalam masa pengerjaan, harus kita yang memulai menghubungi pelanggan, bahkan ketika proyek molor, jangan biarkan mereka yang mencari kita dulu. KIta yang memegang kendali, beri tahukan kesulitan-kesulitan yang kita hadapi, jangan biarkan mereka yang mencari kita. Buat posisi mereka tidak siap untuk balas menekan kita.

Pedagang Sukses? Jujur Kuncinya

July 10th, 2008

Saya pernah mendapat jargon, berdagang mana bisa jujur. Ya harus bohong, kalau gak bohong ya tidak laku barangnya.  Barang jelek dibilang bagus, kulakan murah dibilang mahal.

Benarkah, jargon-jargon seperti itu ? Jawabannya jelas satu. Salah !!!

Mungkin bisa saja berdagang dengan bohong seperti itu bisa mendapat keuntungan besar dalam waktu singkat. Tetapi mana bisa menjalin hubungan jangka panjang dengan pelanggan ?

Memang ada beberapa perusahaan yang ‘khusus’ berjualan sekali tembak seperti itu. Toh pasar yang ditipu masih banyak, satu orang marah-marah karena ketipu masih banyak orang lain yang bisa ditipu.

Tapi apa asyiknya berdagang seperti itu, dimusuhi dimana-mana, uang yang dihasilkan juga tidak berkah karena dari hasil menipu.

Toh berdagang dengan jujur dikenal sebagai pedagang yang jujur, insyaAllah lebih barokah, dan akan mendapat kepercayaan dari pelanggan sehingga bisnis bisa terus berkembang.

Trik Menjadi Produsen Sekaligus Pedagang

July 9th, 2008

Sebagai seorang pembuat produk, adakalanya keinginan muncul untuk membuat produk sebagus-bagusnya. Secanggih mungkin, Seindah mungkin. Sayangnya terkadang keinginan tersebut tidak disertai dengan perhitungan yang tepat sehingga barang yang dihasilkan walaupun berkualitas tetapi ongkos pembuatannya sangat mahal bahkan melebihi anggaran, yang berakibat pada kerugian dan bangkrutnya suatu perusahaan.

Lain halnya dengan para pedagang, pikiran para pedagang adalah bagaimana menjual barang dengan ongkos produksi seminimal mungkin, dan bisa dijual semahal mungkin. Untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya. Sayangnya terkadang, idealis tersebut tidak disertai dengan keinginan untuk menjalin hubungan jangka panjang dengan para pembelinya. Sehingga ketika para pembeli tahu, dia membeli barang murah dengan harga mahal, dia akan lari dari para pedagang tersebut.

Nah, sebagai seorang pembuat produk sekaligus pedagangnya, ada beberapa trik yang biasa saya lakukan agar bisa menjual barang berkualitas yang dibuat dengan harga murah dengan harga yang mahal. Karena saya adalah pembuat software, maka trik-trik ini mungkin hanya berlaku pada pembuatan dan penjualan software.

  • Membuat produk ’sederhana’ yang unik, dimana tidak ada atau hanya sedikit pesaing di produk yang kita buat tersebut. Sehingga berapapun harga yang kita tawarkan, para pembeli tidak akan merasa itu mahal (asalkan masih didalam anggaran mereka). Sebab tidak ada pesaing yang membuat barang sama dengan kita.
  • Membuat produk yang sama dengan produk-produk lain dengan penambahan sedikit fitur yang terlihat canggih dihadapan para pembeli, sehingga ketika kita menawarkan dengan harga yang lebih mahal. Pembeli tersebut akan maklum.
  • Jangan pernah berpikir produk bagus berdasar persepsi kita, tetapi buatlah produk bagus berdasar persepsi pembeli. Saya sering menjual software acak-acakan yang dibuat dalam tempo 1 jam, dengan males-malesan, tampilan sekenanya, tetapi karena fitur yang saya tawarkan canggih di hadapan mereka, walaupun sederhana dihadapan saya maka mereka tetap puas dan mau membeli dengan harga mahal. Bahkan karena kagumnya, mereka mau menggaji saya mingguan untuk terus membuat produk semacam itu ke mereka :D.
  • Jangan pernah menawarkan fitur yang akan mempersulit kita sendiri hanya demi meyakinkan pembeli agar mau membeli dari kita. Tawarkan saja fitur-fitur yang sudah terlihat ‘modern’ di hadapan mereka tetapi mudah proses pembuatannya.

Konsisten ?

July 8th, 2008

Seseorang yang sering berubah-ubah pendirian dan pendapatnya sering kali disebut sebagai orang yang tidak konsisten, dan mendapat nama buruk di hadapan rekan-rekannya. Padahal mereka-mereka yang berubah-ubah pendirian dan pendapatnya belum tentu orang yang tidak konsisten. Bahkan merekalah sebenarnya orang konsisten, asalkan alasan mereka berubah pendiriannya itu tepat.

Layakkah seseorang yang dulunya menghalalkan pelacuran, judi, dlsbnya setelah mendapat cahaya agama menjadi orang yang paling gencar mengharamkannya ?

Orang-orang seperti itu, orang-orang yang merubah pendirian dan pendapatnya walaupun dihina oleh teman-teman dan rekan-rekan seperjuangannya dulu adalah orang yang konsisten. Selama dia merubah pendirian karena ada kebenaran datang padanya.

Dia adalah orang yang konsisten, konsisten pada kebenaran.

Tidak Terlalu Sering Berbuat Baik Pada Seseorang

July 6th, 2008

Pernahkan kita dituduh ‘jahat’ setelah melakukan banyak kebaikan pada seseorang ? Contoh: kita sering mentraktir teman kita makan, suatu saat mungkin karena kondisi keuangan yang sedang menipis atau karena sedang tidak punya uang, kita tidak bisa mentraktir mereka. Dan .., segala macam tuduhan mereka timpakan pada kita, yang jahat, yang pelit, dlsbnya.

Mereka semua lupa, betapa banyak kebaikan yang telah kita lakukan kepada mereka, yang diingat hanya satu kali kesalahan kita pada mereka. Lain ceritanya, jika seseorang yang tidak pernah melakukan kebaikan kepada mereka. Satu kali kebaikan mereka lakukan, diingat terus kebaikannya.

Karena itulah, ketika berhadapan dengan seseorang dan hendak menjalin hubungan baik dengan mereka. Jangan terlalu sering berbuat baik, biasa-biasa saja. Kalaupun ingin menolong mereka, lakukan tanpa mereka tahu.

Berbuat baik di saat-saat yang tepat saja, sehingga ketika suatu saat kita tidak mampu menolong mereka, mereka tidak akan benci kepada kita.

Dengki dan Kehancuran

July 4th, 2008

Salah satu sifat buruk yang melekat pada bangsa ini adalah sifat dengki, iri melihat keberhasilan saudara kita sendiri. Melihat tetangganya/ saudaranya membeli perabotan baru.., iri, dengki. Melihat teman seperjuangannya berhasil iri, dengki juga.

Suatu hal yang tidak bisa dinalar, banyak orang-orang yang jauh lebih berhasil dan kaya ketimbang saudara atau tetangganya. Tapi dia tidak iri dan dengki, sementara kalau saudara atau tetangganya sukses ia iri.

Rasa iri dan dengki inilah yang membuat saling menghancurkan satu sama lain.

Membuat kita tidak bisa maju.

Karena itulah, saya agak malas bekerja sama dengan bangsa sendiri (orang Indonesia dan suku Jawa khususnya). Karena rasa iri dan dengki dari mereka yang akan menjadi penghambat kemajuan.

Baik tapi Tegas

July 2nd, 2008

Sungguh aneh karakter manusia, ketika mereka berhadapan dengan orang jahat, mereka justru berbaik-baik hati dan menunjukkan loyalitasnya. Akan tetapi, ketika berhadapan dengan orang yang bersikap baik kepada mereka, mereka justru malah melunjak dan malah meremehkan.

Ketika seorang pemimpin perusahaan bersikap baik, mudah memaafkan, terhadap kesalahan pegawainya. Para pegawainya justru berleha-leha, malah meremehkan, malah bersikap kurang ajar. Lain sikapnya ketika berhadapan dengan seorang pemimpin perusahaan yang jahat. Mereka akan takut untuk bersikap kurang ajar.

Lalu, bagaimana kita bersikap dalam hal ini, apakah memilih menjadi pemimpin yang ‘baik’ tetapi diremehkan oleh para pegawainya, atau menjadi pemimpin yang ‘jahat’ yang ditakuti para pegawainya ?

Maka jalan terbaik adalah tetap menjadi pemimpin yang baik, akan tetapi membuat aturan yang tegas yang memuat bonus dan hukuman bagi para pegawai yang berprestasi atau pegawai yang melanggar.

Sebagai pribadi kita tetap berusaha menjadi pribadi yang memahami dan selalu memaafkan pegawainya. Akan tetapi karena aturan sudah ada. Maka aturan itu jangan dilanggar, dan harus ditegakkan.

Keliru dalam Memahami makna “Recehan”

July 1st, 2008

Ketika ada pembicaraan “recehan” di blog-blog, saya selalu berpikir bahwa recehan yang dimaksud adalah ratusan dollar. Wow.., demikian banyak penghasilan dari temen-temen lain yang ngeblog. Sebab recehan (ratusan dollar) dianggap permainan kecil.

Baru sadar, ternyata yang dianggap recehan oleh teman-teman itu ya bener-bener receh 0.0.. $ :D.

Hanya saja walaupun receh, kalau volumenya besar, ya dapatnya bakalan lumayan besar juga.

Menjual Orientasi Pembeli

June 30th, 2008

Sekarang ini sedang rame-ramenya trik menjual dengan tidak memberi kesempatan berpikir kepada pembeli untuk mempertimbangkan barang tersebut dibutuhkan tidak olehnya.  Entah itu dengan cara diskon besar di waktu tertentu (yang kalau orang-orang jualan di website itu cuman bohong doang, karena ternyata diskon terus), atau dengan cara-cara lain yang membuat para pembeli bingung, tidak mampu berpikir jernih dan langsung membeli tanpa mempertimbangkan barang itu dibutuhkan olehnya atau tidak. Read the rest of this entry »